SUBANG -Pelaksanaan tes Computer Assisted Test (CAT) seleksi Pergantian Antar Waktu (PAW) Kepala Desa Gempolsari, Kecamatan Patokbeusi, Kabupaten Subang yang digelar di Universitas Subang (UNSUB) berlangsung dinamis. Sidang pleno penetapan hasil sempat bergejolak dan dipenuhi interupsi dari sejumlah pihak.
Pantauan di lokasi, ketegangan terjadi saat sesi tanya jawab pleno. Beberapa peserta dan perwakilan warga melayangkan interupsi dengan mempertanyakan mekanisme soal tes CAT yang dinilai acak dan berbeda-beda antar peserta.
“Kenapa soal tesnya acak? Kenapa tidak sama antara peserta satu dengan yang lain? Kami mempertanyakan transparansi soal ini,” ujar salah satu peserta interupsi di dalam ruang sidang pleno.
Suasana pleno yang awalnya kondusif sempat memanas selama beberapa menit. Adu argumen terjadi antara peserta seleksi dan pihak panitia terkait sistem penilaian berbasis CAT.
Menanggapi interupsi tersebut, pihak panitia seleksi bersama tim penguji dari UNSUB memberikan penjelasan bahwa sistem soal acak merupakan Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam metode CAT.
Pihak UNSUB menegaskan, sistem pengacakan soal justru dilakukan untuk menjaga objektivitas dan mencegah kebocoran soal serta memastikan kemurnian hasil tes.
“Sistem CAT memang soalnya diacak oleh sistem secara otomatis. Itu untuk menjaga keadilan. Semua peserta mendapatkan bobot soal yang sama, hanya urutan dan varian soalnya yang di-random oleh komputer. Nilai murni langsung keluar dari sistem,” jelas Tim Penguji UNSUB di hadapan sidang pleno.
Setelah mendapat penjelasan tersebut, sidang pleno kembali dilanjutkan. Panitia berharap seluruh pihak dapat menerima mekanisme CAT sebagai bagian dari komitmen untuk mewujudkan seleksi PAW Kades Gempolsari yang jujur, transparan, dan akuntabel.
Hingga berita ini diturunkan, sidang pleno masih berlangsung dengan pengamanan dan pengawasan ketat dari unsur terkait.(Asep apung)





