Subang– Anggota DPR RI Elita Budiati, SKM., M.Si menggelar sosialisasi 4 Pilar MPR RI di Aula Panca Bhakti, Kecamatan Subang, Senin (14/9/2026) mulai pukul 08.30 WIB. Kegiatan ini diikuti unsur masyarakat Kecamatan Subang.
Dalam pemaparannya, Elita menjelaskan Pancasila bukan ideologi yang terbentuk secara mendadak. Pancasila lahir melalui proses panjang sejarah bangsa Indonesia.
“Secara bahasa, Pancasila berasal dari Sansekerta. Panca artinya lima, sila artinya dasar. Jadi Pancasila adalah lima dasar negara. Secara istilah, Pancasila adalah konsep lima dasar yang menjadi ideologi negara yang dikemukakan Ir. Soekarno,” jelas Elita.
Ia menambahkan, ideologi berasal dari bahasa Yunani idea dan logos yang artinya buah pemikiran.
“Jadi ideologi Pancasila adalah buah pemikiran yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila,” katanya.
Elita memaparkan perjalanan pengamalan Pancasila di Indonesia:
1. Orde Lama.
Pancasila sudah jadi pedoman negara, namun praktiknya masih banyak penyelewengan. Situasi dalam negeri belum stabil karena masih ada pemberontakan. Puncaknya adalah peristiwa G30S PKI yang ingin mengganti Pancasila dengan ideologi komunis. Selain itu, DPR hasil Pemilu 1955 dibubarkan dan Presiden diangkat seumur hidup.
2. Orde Baru.
Pemerintah berkomitmen mengamalkan Pancasila lewat Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau P4. Namun dalam praktiknya, nilai Pancasila hanya sebatas tulisan. Kebebasan berpendapat dan kebebasan pers dibatasi. Masa jabatan Presiden diperpanjang hingga 32 tahun.
3. Reformasi.
Setelah Orde Baru tumbang, semua pihak berjanji menjalankan Pancasila secara konsekuen. Aturan yang bertentangan dengan Pancasila dihapus. Namun tantangannya kini berbeda, yakni peredaran miras, narkoba, vandalisme, pertikaian antar suku, anarkisme, dan kebejatan moral.
Elita menguraikan 5 sila Pancasila sebagai cerminan gerak sosial masyarakat:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
3. Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Menurutnya, nilai-nilai itu sebenarnya sudah mengakar dalam budaya Indonesia seperti silaturahmi, adat istiadat, gotong royong, beragama, musyawarah, serta saling menghargai.
“Indonesia negara luas dengan ratusan suku, bahasa, agama, dan budaya. Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Sunda, Jawa, Batak, Dayak, dan lainnya. Satu-satunya yang bisa menyatukan kita adalah Pancasila,” tegasnya.
Elita menekankan Pancasila memiliki kedudukan sebagai sumber segala sumber hukum, falsafah hidup bangsa, pedoman tindakan, dasar negara, ideologi, serta jati diri bangsa Indonesia.
Ia mengajak warga mengamalkan Pancasila lewat tindakan sederhana:
1. Membiasakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
2. Mencintai produk dalam negeri untuk mengangkat ekonomi rakyat
3. Menjaga toleransi antarumat beragama
4. Menjaga persatuan di tengah kemajemukan budaya, bahasa, dan etnis
5. Mengutamakan musyawarah dan keadilan sosial
6. Berpartisipasi dalam Pemilihan Umum sesuai Sila ke-4
“Pancasila adalah kontrak sosial. Ia akan terus berlaku jika kita semua masih menyepakatinya. Tidak boleh lagi ada korupsi, nepotisme, hidup mewah, dan mementingkan kelompok. Mari kita bumikan Pancasila sesuai cita-cita para pendiri bangsa,” pungkas Elita.
Sosialisasi ini diharapkan mampu memperkuat pemahaman masyarakat Subang agar nilai-nilai 4 Pilar Kebangsaan: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika benar-benar hidup dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.(Asep apung)





